Sebab Seseorang Bertahan dalam Hubungan Toksik

Sebab Seseorang Bertahan dalam Hubungan Toksik

Sebab Seseorang Bertahan dalam Hubungan Toksik ,Sebab Seseorang Bertahan dalam Hubungan ToksikSejatinya hubungan percintaan akan membawa kebahagiaan bagi kedua pihak. Namun realitasnya, sering kita lihat hubungan yang timpang sebelah. Yang satu bahagia, satu lagi menderita. Itulah yang terjadi saat hubungan yang terjadi adalah toksik.

https://bradford-online.com/

SUPPORT BY AGEN CLUB38

Mungkin sebagian di antara kamu bertanya-tanya, mengapa kok ada orang yang mau tetap bertahan pada sebuah hubungan yang tidak sehat, hanya memberi duka padanya dan jelas sekali terlihat kalau dia tidak bahagia? Berikut ini beberapa penyebab seseorang tetap kukuh pada hubungan toksik.

1. Tidak ingin sendiri

5 Sebab Seseorang Bertahan dalam Hubungan Toksik, Meskipun Gak Bahagiapexels

Memiliki pasangan bagi sebagian orang punya konotasi sosial, membuat reputasi orang tersebut jadi lebih baik dibanding mereka yang masih sendiri. Itulah sebabnya masih banyak yang melihat pernikahan layaknya kompetisi, siapa yang duluan, dialah yang menang.

Ketakutan hidup sendiri inilah yang kerap jadi alasan mengapa seseorang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Tak peduli pasangannya itu acuh tak acuh, bersikap kasar, sering mengintimidasi, suka mengolok-olok, dan hobi membuatnya menangis, selama statusnya secara sosial ‘menikah’ atau punya pasangan, seolah-olah itu sepadan dengan perlakuan buruk yang selalu ia terima.

2. Terdapat pemakluman secara sosial terkait perilaku toksik

5 Sebab Seseorang Bertahan dalam Hubungan Toksik, Meskipun Gak Bahagiaunsplash.com/@matreding

Keputusan untuk keluar dari hubungan yang toksik bisa jadi karena ia tidak menyadari bahwa perilaku pasangannya itu sangat salah dan tidak bisa dimaklumi. Hal ini disebabkan banyak masyarakat yang sangat mentoleransi perilaku toksik.

Selama itu bukan luka fisik, maka kekerasan verbal yang dilakukan pasangan harusnya bisa diatasi dengan bersabar dan korban pun semestinya lebih bisa memaafkan, demi kelanjutan sebuah hubungan. Padahal, luka verbal tak kalah dahsyat dengan luka fisik.

Sebagai contoh, apa yang kita lihat di pemberitaan. Beberapa artis melakukan bunuh diri akibat depresi setelah melihat komentar jahat di media sosial.

Orang yang memutuskan pisah dikarenakan kekerasan verbal kerap dipandang lemah, gampang sekali menyerah, gak sabaran, dan sebagainya.

3. Runtuhnya kepercayaan diri

5 Sebab Seseorang Bertahan dalam Hubungan Toksik, Meskipun Gak Bahagia

Ciri khas dari pasangan toksik adalah menganggap drinya pusat semesta, sehingga tindak-tanduknya sangat mendominasi. Orang seperti ini lihai sekali memanipulasi. Korban dcuci otaknya sehingga percaya bahwa perilaku toksik yang iterimanya karena alasan cinta dan korban lah yang membuat si pelaku toksik melakukan semua itu.

Terus-menerus diperlakukan seperti itu, membuat korban jadi merasa drinya tidak bernilai sama sekali, dan harusnya bersyukur ada orang yang masih mencintainya, yakni pasangan toksik tad.

Sifat dominan dari pasangan toksik juga membuat korban terisolasi dengan keluarga atau teman-temannya. Ini semakin memperburuk keadaan, ia jadi tidak bisa melihat perspektif lain dan akhirnya terus terperangkap dalam hubungan yang tidak sehat tersebut.

4. Yakin tidak ada manusia yang sepenuhnya jahat

Alasan lain seseorang tetap bertahan pada hubungan yang toksik karena korban meyakini, pasangannya itu tidak sepenuhnya jahat. Masih ada banyak sisi positif yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Itulah kenapa, ketika ada keluarga atau teman yang memberi tahu bahwa sikap pasangannya itu tidak benar, justru korban malah membela.

Saat korban mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dan tersiksa lahir batin, pemikiran tad, membuatnya sibuk mengingat-ingat kebaikan-kebaikan yang ada pada pasangannya. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya tidak perlu sampai kerja keras harus mengingat kebaikan seseorang. Cinta seharusnya tak menyakiti, tapi saling mendukung satu sama lain.

5. Demi anak

Alasan ini yang paling populer dkemukakan oleh mereka para korban pasangan toksik. Demi kebahagiaan anak, supaya anak bisa punya keluarga lengkap, maka ia rela menanggung derita tiap hari, sampai kehilangan jati dri.

Tak dsadarinya, bahwa membiarkan anak hidup dlingkungan keluarga yang toksik justru bisa berdampak buruk bagi perkembangan anaknya nanti. Anak jadi dbesarkan dalam keluarga yang tidak bahagia, berpotensi jad korban maupun pelaku hubungan toksik d kemudan hari ketika mereka sudah besar.

Perempuan yang selalu melihat ibunya jai korban kekerasan ayahnya tanpa ada ketegasan untuk menghentikan hal tersebut, akan percaya bahwa memang perempuan layaknya dperlakukan seperti itu.

Lelaki yang sehari-hari melihat bagaimana perilaku kasar bapaknya, akan bisa jadi pelaku berikutnya karena ia tidak mengerti hubungan yang sehat seperti apa, bagaimana seharusnya memperlakukan wanita dengan baik.

Memiliki harapan agar pasangan bisa berubah memang baik, tapi bukan berarti jadi pembenaran dan pemakluman untuk tetap bertahan dalam hubungan toksik. Karena orang yang toksik biasanya sulit berubah. Karakternya sudah berurat berakar. Tetap bertahan hanya akan membuatmu menderita saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *